Engineers can't write. Insinyur tidak dapat menulis dengan baik1. Apakah
memang benar demikian? Sebetulnya para sarjana atau insinyur ini memiliki modal kemampuan menulis. Pasalnya dia harus sering mengemukakan hasil pekerjaannya kepada rekan kerjanya. Hanya saja kemampuan ini tidak diasah sehingga tumpul. Seorang insinyur yang memiliki kemampuan menulis akan lebih sukses daripada seseorang yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Banyak kesalahan yang dijumpai dalam tulisan/karya tulis mahasiswa. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain:
- salah mengerti audience atau pembaca tulisannya,
- salah dalam menyusun struktur pelaporan,
- salah dalam cara mengutip pendapat orang lain sehingga berkesan menjiplak (plagiat),
- salah dalam menuliskan bagian Kesimpulan,
- penggunaan Bahasa Indonesia (akan dibahas secara khusus) yang belum baik dan benar,
- tata cara penulisan 'Daftar Pustaka' yang kurang tepat (tidak standar dan berkesan seenaknya sendiri)
- tidak konsisten dalam format tampilan (font yang berubah-ubah, margin yang berubah-ubah),
- isi yang terlalu singkat karena dibuat dengan menggunakan point-form seperti materi presentasi,
- isi justru terlalu panjang dengan pengantar introduction yang berlebihan.
Mengantisipasi Pembaca Tulisan
Hal yang sering terlupakan oleh mahasiswa adalah audience atau pembaca dari tulisannya. Strategi penulisan akan berbeda jika yang membaca adalah orang yang mengerti teknis (dosen, insinyur, teknisi) dan orang yang kurang mengerti teknis (umum). Thesis atau laporan tugas akhir ditujukan kepada orang yang mengerti teknis. Untuk itu isi dari laporan biasanya lebih teknis. Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan harus pas. Jika Anda menganggap bahwa pembaca seorang yang bodoh, maka pembaca akan merasa terhina (insulted). Coba pikirkan penjelasan kalimat di bawah ini.
"Mari kita misalkan biaya produksi dari perangkat ini dengan
bakso. Jika satu mangkok baso harganya 3000 rupiah, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli 1000 mangkok baso".
Bandingkan dengan kalimat di bawah ini.
"Mari kita gunakan variabel x sebagai jumlah unit yang akan
diproduksi. Biaya produksi sebuah unit adalah 3000 rupiah,Maka biaya produksi 1000 unit adalah 1000x"
Dengan menggunakan permisalan mangkok baso, maka Anda telah menghina intelektual pembaca! Tentunya contoh di atas terlalu ekstrim. Kasus yang terjadi tidak seekstrim itu namun mendekati. Misalnya, di bidang saya (bidang digital), tidak usah menjelesakan Boolean logic pada bagian pendahuluan dari thesis Anda. Anda hanya akan menghabiskan tempat dan menghina pembaca pada saat yang bersamaan. Di satu sisi yang lain, ada juga mahasiswa yang menulis dengan sangat kompleks sehingga justru sulit dimengerti. Mungkin dalam pikirannya adalah ilmu dan teknologi itu secara prinsip harus sulit, sehingga penje lasannya pun harus sulit dimengerti. Penulis yang baik adalah penulis yang dapat menjelaskan sesuatu yang sulit dengan cara yang sederhana sehingga mudah dimengerti. Tentunya hal ini dilakukan dengan tanpa merendahkan intelektual pembaca
Tidak ada komentar:
Posting Komentar