Semasa remaja, Petruk (bukan nama sebenarnya) termasuk orang susah. Dengan bekerja keras, dia akhirnya meraih sukses, menjadi pucuk pimpinan perusahaan ternama. Dia juga memiliki beberapa usaha yang menguntungkan.
Gaya hidupnya berubah. Petruk yang dulu tidak bisa makan makanan luar negeri sekarang tiap hari melahapnya. Porsinya pun di atas porsi pada umumnya. Dia juga mulai dugem tiap hari. Sebaliknya, olahraga yang dulu rutin dilakukan kini tak pernah lagi.
Dampaknya, berat badan pria bertinggi 170 cm itu meningkat dari 75 kg menjadi 135 kg. Seiring dengan obesitas tersebut, penyakit lain berdatangan. Petruk terserang diabetes. Bahkan, penyakit itu membuat kaki kanannya diamputasi sebatas lutut. "Lukanya sih kecil. Tapi, di dalamnya sudah busuk," ungkap dr Didi Aryono SpKJ, kepala SMF Ilmu Kedokteran Jiwa RSU dr Sootemo.
Didi menambahkan, semula pasien tidak mau kakinya dipotong. Namun, dia akhirnya setuju setelah dijelaskan bahwa pembusukan akan menjalar ke atas bila tidak dicegah. Kalau itu terjadi, akibatnya bisa fatal. "Saya beri gambaran, bila dipotong sekarang, dia masih bisa menggunakan kaki palsu dan melanjutkan hidup seperti orang normal," tuturnya.
Menurut Didi, yang dialami Petruk itu disebut lifestyle disorder, gangguan kesehatan karena gaya hidup. Petruk yang selama ini hidup kekurangan akhirnya sukses dan melampiaskan dengan gaya hidup yang salah. "Dia mengaku selalu makan dalam porsi sangat besar. Itu sebagai pelampiasan karena dulu dia tidak bisa makan makanan tersebut," paparnya.
Karena kebablasan, Petruk terserang beragam penyakit. "Saat ini, penyakit tidak hanya disebabkan kuman. Gaya hidup kian sering memicu beragam penyakit," tambahnya.
Didi menyebut sindrom metabolisme sebagai gejala awal gangguan kesehatan tersebut. Seharusnya, lingkar pinggang pria maksimal 90 cm dan wanita 80 cm. "Jika sudah melebihi itu, perlu diwaspadai. Diet perlu dilakukan," jelasnya.
Dia menambahkan, gaya hidup memang sulit dihindari. Apalagi, berbagai media massa menginformasikan setiap hari. Misalnya, acara-acara kuliner dan segmen khusus tentang kehidupan malam.
Karena itu, menurut Didi, pemberdayaan pengertian harus mulai dilakukan. Selama ini, kata Didi, masyarakat Indonesia sering melakukan segala sesuatu secara berlebihan. "Misalnya, makan satu porsi cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori. Tapi, mereka merasa kurang. Begitu juga dugem. Sekali-sekali sih tidak apa-apa. Kalau tiap malam, pasti mengganggu kesehatan," tegasnya.
sumber JP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar