Sulit berdiri dari posisi jongkok lazim dialami orang berusia lanjut. Ada juga sebagian orang, meskipun masih muda, kesulitan berjongkok. Saat hendak jongkok dan tubuh sudah berada pada posisi tersebut, tiba-tiba saja orang itu terjatuh ke belakang.
Kondisi tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan menahan berat badan. "Sering, orang yang mengalami hal seperti itu sebelumnya pernah cedera, disadari ataupun tidak," kata Dr dr Achmad Sjarwani SpB SpOT, spesialis bedah dan ortopedi RSU dr Soetomo, Surabaya.
Cedera, papar dia, bisa disebabkan olahraga atau sebaliknya, tak pernah berolahraga. Pada orang yang suka berolahraga, cedera disebabkan posisi yang salah saat melakukan gerakan tertentu. Misalnya, tidak ada pemanasan. Bisa juga disebabkan beban atau aktivitas yang berlebihan. Nah, orang yang tak pernah atau sangat jarang berolahraga mungkin mengalami gangguan ketika harus menggerakkan lutut.
Dia menjelaskan, terdapat dua otot yang berperan dalam gerakan lutut. Di antaranya, otot quadricept yang terletak di depan tulang paha. Satu lagi adalah otot hamstring yang terdapat di belakang tulang paha. "Keduanya terhubung dengan tempurung lutut (patella, Red)," tambahnya. Ketika jongkok, tempurung lutut akan bergeser ke bawah dan berada di depan tulang paha. Tetapi, jarak keduanya tidak terlalu dekat. Cedera akan muncul bila bagian dalam patella yang dilapisi tulang rawan lebih mendekati tulang rawan pada tulang paha saat kaki tertekuk. Sehingga, keduanya bergesekan. Bila berulang, gesekan akan melukai patella dan tulang paha. Efeknya, terasa nyeri waktu jongkok. "Nyeri begitu disebut anterior knee pain atau chondro malacia patella," ungkap Achmad.
Saat jongkok, hamstring berkontraksi atau tertarik, sedangkan otot quadricept memanjang. "Quadricept akan menahan berat badan sehingga orang tersebut tidak jatuh dan mampu jongkok dengan sempurna," ucapnya. Kondisi tersebut diibaratkan proses kerja katrol dan ember di sumur. Jika tali katrol tak bisa menahan beban, ember akan meluncur ke bawah. Kali ini tempurung lutut menjadi bebannya. Sedangkan talinya adalah quadricept dan hamstring. Jika orang tersebut tidak bisa menahan nyeri patella saat jongkok, otot quadricept gagal menahan patella terlalu lama. Patella pun terus meluncur. Sehingga orang tersebut akan jatuh. "Hal itu disebut hilangnya tenaga secara mendadak saat jongkok," imbuhnya.
Menurut Achmad, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penderita anterior knee pain. Di antaranya, tak menekuk lutut lebih dari 50 derajat. Contohnya, memasang kuda-kuda saat latihan silat atau senam taichi. Terutama, orang yang jarang atau tidak pernah melakukan gerakan itu. "Upayakan tungkai lurus atau selonjor saat duduk," katanya.
Selain itu, hindari naik tangga yang jarak antaranak tangganya jauh. Kalaupun terpaksa, pegang tangan tangga ataupun tembok. Pada kondisi begitu, lebih disarankan naik lift untuk menghindari cedera berkelanjutan. Efek buruknya, orang tersebut malas bergerak. "Otot quadricept-nya pun tak terlatih untuk menahan beban," tegasnya.
Kalaupun ingin berolahraga, hendaknya tidak tiba-tiba memilih yang berat. "Lakukan kegiatan ataupun olahraga yang ringan, mudah, dan berkelanjutan," bebernya. Meski demikian, penambahan kuantitas (jumlah) dan kualitas (lama waktu dan beban) latihan tetap dibutuhkan. Pilihannya, jalan cepat dan bersepeda dengan posisi sadel tinggi agar lutut tidak terlalu tertekuk. "Berenang juga boleh, asal bukan gaya katak," ucap dia. Sedangkan joging hendaknya dihindari.
http://jawapost.com
Kondisi tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan menahan berat badan. "Sering, orang yang mengalami hal seperti itu sebelumnya pernah cedera, disadari ataupun tidak," kata Dr dr Achmad Sjarwani SpB SpOT, spesialis bedah dan ortopedi RSU dr Soetomo, Surabaya.
Cedera, papar dia, bisa disebabkan olahraga atau sebaliknya, tak pernah berolahraga. Pada orang yang suka berolahraga, cedera disebabkan posisi yang salah saat melakukan gerakan tertentu. Misalnya, tidak ada pemanasan. Bisa juga disebabkan beban atau aktivitas yang berlebihan. Nah, orang yang tak pernah atau sangat jarang berolahraga mungkin mengalami gangguan ketika harus menggerakkan lutut.
Dia menjelaskan, terdapat dua otot yang berperan dalam gerakan lutut. Di antaranya, otot quadricept yang terletak di depan tulang paha. Satu lagi adalah otot hamstring yang terdapat di belakang tulang paha. "Keduanya terhubung dengan tempurung lutut (patella, Red)," tambahnya. Ketika jongkok, tempurung lutut akan bergeser ke bawah dan berada di depan tulang paha. Tetapi, jarak keduanya tidak terlalu dekat. Cedera akan muncul bila bagian dalam patella yang dilapisi tulang rawan lebih mendekati tulang rawan pada tulang paha saat kaki tertekuk. Sehingga, keduanya bergesekan. Bila berulang, gesekan akan melukai patella dan tulang paha. Efeknya, terasa nyeri waktu jongkok. "Nyeri begitu disebut anterior knee pain atau chondro malacia patella," ungkap Achmad.
Saat jongkok, hamstring berkontraksi atau tertarik, sedangkan otot quadricept memanjang. "Quadricept akan menahan berat badan sehingga orang tersebut tidak jatuh dan mampu jongkok dengan sempurna," ucapnya. Kondisi tersebut diibaratkan proses kerja katrol dan ember di sumur. Jika tali katrol tak bisa menahan beban, ember akan meluncur ke bawah. Kali ini tempurung lutut menjadi bebannya. Sedangkan talinya adalah quadricept dan hamstring. Jika orang tersebut tidak bisa menahan nyeri patella saat jongkok, otot quadricept gagal menahan patella terlalu lama. Patella pun terus meluncur. Sehingga orang tersebut akan jatuh. "Hal itu disebut hilangnya tenaga secara mendadak saat jongkok," imbuhnya.
Menurut Achmad, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penderita anterior knee pain. Di antaranya, tak menekuk lutut lebih dari 50 derajat. Contohnya, memasang kuda-kuda saat latihan silat atau senam taichi. Terutama, orang yang jarang atau tidak pernah melakukan gerakan itu. "Upayakan tungkai lurus atau selonjor saat duduk," katanya.
Selain itu, hindari naik tangga yang jarak antaranak tangganya jauh. Kalaupun terpaksa, pegang tangan tangga ataupun tembok. Pada kondisi begitu, lebih disarankan naik lift untuk menghindari cedera berkelanjutan. Efek buruknya, orang tersebut malas bergerak. "Otot quadricept-nya pun tak terlatih untuk menahan beban," tegasnya.
Kalaupun ingin berolahraga, hendaknya tidak tiba-tiba memilih yang berat. "Lakukan kegiatan ataupun olahraga yang ringan, mudah, dan berkelanjutan," bebernya. Meski demikian, penambahan kuantitas (jumlah) dan kualitas (lama waktu dan beban) latihan tetap dibutuhkan. Pilihannya, jalan cepat dan bersepeda dengan posisi sadel tinggi agar lutut tidak terlalu tertekuk. "Berenang juga boleh, asal bukan gaya katak," ucap dia. Sedangkan joging hendaknya dihindari.
http://jawapost.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar